SELAMAT DATANG DI WEBSITE YAYASAN PENUAI INDONESIA DIVISI NARKOBA

Masalah Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya (NARKOBA) dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukan kecenderungan peningkatan yang sangat pesat, baik kualitas maupun kuantitas. Masalah tersebut telah menimbulkan banyak korban, terutama kalangan muda yang termasuk klasifikasi usia produktif. Masalah ini juga bukan hanya berdampak negatif terhadap diri korban/pengguna tetapi lebih luas lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat, perekonomian, kesehatan nasional (HIV dan Hepatitis), mengancam dan membahayakan keamanan, ketertiban, bahkan lebih jauh lagi mengakibatkan terjadinya biaya sosial yang tinggi dan generasi yang hilang. Masalah pemulihan dalam penyalahgunaan NARKOBA bukan persoalan yang mudah. Dibutuhkan waktu yang panjang, usaha yang serius dan disiplin yang tinggi bagi penyalahguna untuk dapat bertahan bebas zat (abstinensia) dan berfungsi kembali di dalam masyarakat dan keluarga. Program rehabilitasi merupakan serangkaian upaya yang terkoordinasi dan terpadu, terdiri atas upaya-upaya Medis, Bimbingan Mental dan Spiritual, Psikososial, Pendidikan dan latihan vokasional untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian diri, kemandirian dan menolong diri sendiri serta mencapai kemampuan fungsional sesuai dengan potensi yang dimiliki, baik fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Pada akhirnya mereka diharapkan dapat mengatasi masalah penyalahgunaan NARKOBA dan kembali berinteraksi dengan masyarakat secara wajar.

" Didalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat "

Slogan diatas membuat kami sadar bahwa pentingnya memiliki tubuh yang sehat oleh karena itu kami menyiapkan Ruangan Fitnes , Lapangan Futsal, Lapangan Voli , Kolam Berenang dan Tenis Meja agar klien kami dapat berolahraga.

" Lingkungan Yang Bersih dan Sehat Dapat Membantu Proses Pemulihan "

Lingkungan yang bersih, sehat dan indah berperan penting dalam membantu proses penyembuhan Klien oleh karena itu kami membuat banyak taman dan Gazebo dibantu juga lingkungan disekitar pergunungan sehingga klien dapat menikmati pemandangan yang indah dan nyaman ini.

Mobil Ambulance dan Apotik

Kami juga menyiapkan Mobil Ambulance yang siap dipakai untuk mengantar klien kami ke rumah sakit terdekat dan Apotik yang menyediakan obat untuk membantu kesehatan Klien selama berada di Yayasan Penuai Indonesia.

Banyak Ruangan yang kami siapkan untuk keperluan klien

Ruangan yang kami siapkan di Yayasan Penuai Indonesia yaitu Ruangan Edukasi , Ruangan Serbaguna, Ruangan Istirahat yang nyaman, Ruangan Konseling, Ruangan Dokter dan sebagainya sesuai apa yang dibutuhkan oleh klien selama berada disini.

Rencana Pelaksanaan TC ( Therapy Community) - Untuk detail kegiatan yang kami lakukan silakan hubungi kami di no Tlp yang sudah disediakan.

Phase Induction

Tahap ini berlangsung pada sekitar 30 hari pertama saat residen mulai masuk. Tahap ini merupakan masa persiapan ke tahap Primary yang meliputi : penilaian dan orientasi program TC, penegasan latar belakang dan keinginan resident, kecocokan, penyesuaian dalam komunitas, dan partisipasi harian.

Phase Primary

Tahap ini difokuskan pada perkembangan sosial dan psikologis residen. Dalam tahap ini residen diharapkan dapat melakukan sosialisasi, mengalami pengembangan diri, serta meningkatkan kepekaan psikologis dengan melakukan berbagai aktivitas dan sesi teraputik yang telah ditetapkan. Dilaksanakan selama kurang lebih 6 sampai dengan 9 bulan. Tahap ini difokuskan pada perkembangan sosial dan psikologis residen. Dalam tahap ini residen diharapkan dapat melakukan sosialisasi, mengalami pengembangan diri, serta meningkatkan kepekaan psikologis dengan melakukan berbagai aktivitas dan sesi teraputik yang telah ditetapkan. Dilaksanakan selama kurang lebih 6 sampai dengan 9 bulan. Primary terbagi dalam beberapa tahap, yaitu: • Younger member • Middle member • Older member

Phase Re Entry

Re-entry merupakan program lanjutan setelah Primary. Program Re-entry memiliki tujuan untuk memfasilitasi residen agar dapat bersosialisasi dengan kehidupan luar setelah menjalani perawatan di Primary. Tahap ini dilaksanakan selama maksimal 6 bulan.

Phase After Care

Program yang ditujukan bagi eks-residen/alumni. Program ini dilaksanakan di luar panti dan diikuti oleh semua angkatan di bawah supervisi dari staf re-entry. Tempat pelaksanaan disepakati bersama.

FIlosofi

TC merupakan suatu wujud kehidupan nyata dalam bentuk simulasi. Di dalam TC ada berbagai norma-norma dan falsafah yang dianut untuk membentuk perilaku yang lebih baik. Norma-norma dan falsafah yang ditanamkan dalam TC tersebut kemudian berkembang menjadi suatu budaya TC, yang didalamnya mencakup:
Detail klik detail untuk melanjutkan
Filosofi

TC merupakan suatu wujud kehidupan nyata dalam bentuk simulasi. Di dalam TC ada berbagai norma-norma dan falsafah yang dianut untuk membentuk perilaku yang lebih baik. Norma-norma dan falsafah yang ditanamkan dalam TC tersebut kemudian berkembang menjadi suatu budaya TC, yang didalamnya mencakup:

1. The Creed (TC Philosophy)
Merupakan filosofi atau falsafah yang dianut dalam TC. Falsafah ini merupakan kerangka dasar berpikir dalam program TC yang harus dipahami dan dihayati oleh seluruh residen.

2. Unwritten Philosophy
Merupakan nilai-nilai dasar yang tidak tertulis, tetapi harus dipahami oleh seluruh residen. Karena, inilah nilai-nilai atau norma-norma yang hendak dicapai dalam program. Dengan mengikuti program TC ini, residen dapat membentuk perilaku baru yang sesuai dengan unwritten philosophy.

3. Cardinal Rules
Cardinal Rules merupakan peraturan utama yang harus dipahami dan ditaati dalam program TC, yaitu:
– No drugs (tidak diperkenankan menggunakan narkoba)
– No sex (tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual dalam bentuk apapun)
– No violence (tidak diperkenankan melakukan kekerasan)

Internalisasi perilaku dan perubahan diri

Setelah mengikuti program TC diharapkan seorang residen dapat melakukan internalisasi yaitu penerapan budaya TC dalam perilakunya sehari-hari. Selain itu juga dapat mengalami perubahan dalam dirinya (self-change).

Self Change
Kata ‘self’ disini mengacu pada keseluruhan pribadi orang tersebut. Untuk membuat perubahan, residen hendaknya tidak berperilaku sekedar hanya untuk menaati aturan dalam TC akan tetapi hendaknya membuat perubahan yang fundamental dalam cara hidup dan penerimaan dirinya.

Perubahan diri ditandai dengan adanya :
1. Self-care
2. Self-control
3. Self-management
4. Self-understanding
5. Self-concept

Identitas Diri (Self-Identity)
Identitas diri meliputi seluruh aspek dalam diri seseorang

Self Identity mengacu pada:

  1. Bagaimana individu menganggap/berpandangan terhadap diri mereka sendiri.
  2. Bagaimana seseorang percaya bahwa mereka berbeda dari orang lain.
  3. Memiliki Rasa percaya diri dan mempunyai tujuan individu.
    Suatu transformasi diperlukan untuk memiliki identitas diri, dari seseorang yang menggunakan narkoba atau berhubungan dengan perilaku kriminal menjadi seorang yang produktif, berharga, dan anggota masyarakat yang aktif.

“Credo”

The TC Philosophy [The Creed ]

I am here because there is no refuge, finally, from myself.
Until I confront myself in the eyes and hearts of others, I am running.
Until I suffer them to share my secrets, I have no safety from them. Afraid to be known, I can know neither myself nor any other , I will be alone. Where else but in our common ground, can I find such a mirror ?
Here, together, I can at last appear clearly to myself – not as the giant of my dreams,
nor the dwarf of my fears, but as a person, part of the whole, with my share in its purpose.
In this ground, I can take root and grow,
not alone anymore, as in death,
but alive – to myself and to others.

Unwritten philosophy

Honesty.
Act as if.
Guilt kills.
Blind faith.
Hang tough.
Step by step.
No free lunch.
Keep it simple.
One day at a time.
Responsible concern.
No gain without pain.
Clean bed, clean head.
Compensation is valid.
Remember who you are.
To be aware is to be alive.
Trust in your environment.
You get back what you put in.
Nothing is constant but change.
What goes around, comes around.
You are your brother’s/sister’s keeper.
You can’t keep it without giving it away.
Do your thing and everything will follow.
You alone must do it, but you can’t do it alone.
It is better to understand than to be understood.
Be careful what you ask for—you might just get it.
If you think you are looking good, you are looking bad.
If you think you are looking bad, you are looking good.
Remember where you came from to know where you are going.

Cardinal Rules

1. NO DRUGS
2. NO SEX
3. NO VIOLENCE

Doa Kedamaian (Serenity Prayer)

Tuhan berikanlah aku kedamaian
Untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah
Keberanian untuk mengubah hal-hal yang tidak dapat kuubah
Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

Tujuan therapeutic community (TC)

Tujuan utama TC adalah menghentikan penyalahgunaan NAPZA dan mendorong ke arah pertumbuhan pribadi. Kegiatan di komunitas mendorong mereka untuk mengenal diri sendiri baik dari segi emosional, intelektual, spiritual, perilaku, dan ketrampilan.
Detail Klik Detail untuk melanjutkan
Tujuan therapeutic community (TC)

Cara pandang

  1. Penyalahgunaan NAPZA:
    TC memandang penyalahgunaan NAPZA sebagai suatu kekacauan (disorder) dalam diri seseorang secara menyeluruh, yang mempengaruhi setiap aspek dalam kehidupannya seperti: kognitif (cara berpikir), perilaku (cara bertindak), emosional (perasaan), spiritual, kehidupan sosial, kesehatan (medical), pendidikan dan ketrampilan.
  2. Person (Pribadi):
    TC memandang seorang penyalahguna NAPZA sebagai orang yang harus dan dapat merubah perilaku, sikap, dan kepercayaan dirinya, serta dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif;
  3. Pemulihan (Recovery): Recovery berarti bukan hanya bersih dari alkohol dan narkoba tetapi membangun secara terus menerus atau membangun kembali suatu gaya hidup baru. Recovery dalam TC menghasilkan perubahan cara berpikir, perasaan, perilaku, nilai, dan identitas diri.
  4. Hidup benar (Right Living):
    Hidup benar berarti lebih dari sekedar bersih dari narkoba, tetapi juga dapat memahami nilai-nilai sbb:

– Kejujuran dalam kata dan perbuatan: jujur dalam ekspresi dan emosi, reaksi yang muncul menunjukkan identitas diri yang sesungguhnya kepada diri sendiri dan orang lain.
– Tanggungjawab individu & sosial: residen harus dapat menunjukkan bahwa mereka peduli pada diri sendiri dan orang lain. Tanggungjawab & kepedulian adalah penting untuk menolong diri sendiri dan orang lain.
– Etos kerja: memiliki rasa percaya diri, unggul, pantas dihargai, merasa bangga, dan berkomitmen untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif.
– Aktif dan belajar terus menerus: Belajar tentang diri sendiri dan dunia sekitar akan meningkatkan kemampuan dalam mempertahankan recovery.

Four Structure Five Pillars

Empat Kategori Struktur Program:

  1. Behaviour management shaping (Pembentukan tingkah laku)
    Perubahan perilaku yang diarahkan pada kemampuan untuk mengelola kehidupannya sehingga terbentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma kehidupan masyarakat.
  2. Emotional and psychological (Pengendalian emosi dan psikologi)
    Perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan penyesuaian diri secara emosional dan psikologis.
  3. Intellectual and spiritual (Pengembangan pemikiran dan kerohanian)
    Perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan aspek pengetahuan, nilai-nilai spiritual, moral dan etika, sehingga mampu menghadapi dan mengatasi tugas-tugas kehidupannya maupun permasalahan yang belum terselesaikan.
  4. Vocational and survival (Keterampilan kerja dan keterampilan bersosial serta bertahan hidup)
    Perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan dan keterampilan residen yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari maupun masalah dalam kehidupannya.

Lima Pillars (Lima Tonggak dalam Program)

  1. Family milieu concept (Konsep kekeluargaan)
    Lingkungan keluarga sebagai faktor penunjang bagi pemulihan addict.
  2. Peer pressure (Tekanan rekan sebaya)
    Menciptakan tekanan antar rekan yang positif, sehingga dapat memicu perubahan.
  3. Therapeutic session (Sesi terapi)
    Berbagai kerja kelompok untuk meningkatkan rasa percaya diri dan pengembangan pribadi dalam rangka membantu proses pemulihan.
  4. Spiritual session (Sesi spiritual)
    Proses untuk meningkatkan nilai-nilai dan pemahaman agama serta penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Role modelling (Keteladanan)
    Proses pembelajaran dimana seorang residen belajar dan mengajar mengikuti mereka yang sudah berhasil.

Mengenal Therapeutic Community

Sobat pasti bertanya-tanya apa itu Therapeutic Community (TC) itu? Namun sebelum masuk dalam pembahasan TC, alangkah baiknya kalau kamu mengenal terlebih dahulu beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep tingkat penyalahgunaan narkoba. Sobat, ternyata pecandu itu ada tingkatannya
Detail Klik Detail untuk melanjutkan
Mengenal Therapeutic Community

Sobat pasti bertanya-tanya apa itu Therapeutic Community (TC) itu? Namun sebelum masuk dalam pembahasan TC, alangkah baiknya kalau kamu mengenal terlebih dahulu beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep tingkat penyalahgunaan narkoba. Sobat, ternyata pecandu itu ada tingkatannya, artinya sebelum seseorang itu betul-betul menjadi pecandu yang parah, maka sebelum itu, ada tahapan-tahapan tertentu.Berikut ini adalah tahapannya:

1.    Abstinence,yaitu periode,dimana seseorang tidak menggunakan narkoba sama sekali untuk tujuan rekreasional

2.    Social Use, periode di mana seseorang sudah mulai men narkoba untuk tujuan rekreasional namun tidak berdampak pada kehidupan sosial, financial, dan juga medis si pengguna. Artinya si pengguna ini masih bisa mengendalikan kadar penggunaan narkoba tersebut.

3.    Early Problem use, artinya periode di mana individu sudah menyalahgunakan zat adiktif dan perilaku penyalahgunaan sudah menimbulkan efek dalam kehidupan social si penyalahguna seperti malas sekolah, bergaul hanya dengan orang-orang tertentu, dll.

4.    Early Addiction, adalahkondisi si pecandu  yang sudah menunjukkan perilaku ketergantungan baik fisik maupun psikologis, dan perilaku ini mengganggu kehidupan social yang bersangkutan. Si pecandu ini sangat sulit untuk menyesuaikan dengan pola kehidupan normal,   dan cenderung untuk melakukan hal-hal yang melanggar nilai dan norma yang berlaku.

5.    Severe Addiction, adalah periode seseorang yang hanya hidup untuk mempertahankan kecanduannya, dan sudah mengabaikan kehidupan social dan diri sendiri.  Pada titik ini, si pecandu sudah berani melakukan tindakan criminal demi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi narkoba.

Sobat yang budiman, masalah kecanduan narkoba, sangatlah kompleks. Seperti penjelasan di atas, jika tingkat kecanduan sudah mencapai severe addiction, maka bisa dibayangkan, bahwa kehidupan seseorang sudah sangat jauh dari normal, dan seolah sudah tak berarti, karena si pecandu hanya memikirkan ketergantungannya, tanpa berpikir panjang tentang hidupnya.

Menanggapi masalah kecanduan yang begitu parah, pemerintah dalam hal ini BNN dan juga instansi lainnya tidak tinggal diam. BNN telah menyediakan fasilitas rehabiltasi untuk memulihkan para pecandu narkoba. Nah, di negara kita, ada berbagai macam metode rehabilitasi yang diterapkan di berbagai panti rehab, ada yang bentuknya TC, religi, akupuntur dan lain sebagainya.

Kini yang akan kita bahas adalah rehab model TC. Mungkindi antara Sobat Gen Benar, ada yang pernah mendengar Therapeutic Community atau TC. TC pada awalnya diterapkan untuk pasien psikiatri dan dikembangkan sejak perang dunia kedua.

Awal mula munculnya TC ini adalah dari munculnya kelompok kecil yang saling membantu dan mendukung proses pemulihan yang pada awalnya sangat dipernagruhi oleh gerakan alcoholic anonymous. Metode TC diadopsi dari konsep Timur, namum dikembangkan di New York, AS.Konsep ini kemudian diterapkan pada awalnya di Philipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Berdasarkan jurnal penyalahgunaan narkoba (UNDPC, 1990), metode ini memiliki tingkat keberhasilan sebesar 80%, dengan indikatornya, sipenyalahguna berhasil bertahan pada kondisi bebas zat (abstinensia) dalam waktu yang lebih lama, dengan catatan residen tersebut mengikuti seluruh tahapan hingga selesai.Oleh karena itulah metode ini dipertimbangkan oleh Depertemen Sosial, guna mengembangkan pelayanan dan rehabilitasi social.

Dalam model rehabilitasi TC, residenakanmenjalanibeberapatahapan, antara lain:

1.    Primary Stage, yaitu tahapan program rehabilitasi social, di mana residen ditempa untuk memiliki stabilitas fisik, dan emosi. Residen juga dipacu motivasinya untuk melanjutkan tahap terapi selanjutnya.

2.    Re-Entry Stage, adalah tahapan program rehabilitasi, di mana residen mulai memantapkan kondisi psikologis dalam dirinya, mendayagunakan nalarnya dan mampu mengembangkan keterampilan social dalam kehidupan bermasyarakat.

3.    Aftercare,adalahsuatu program yang terdiri dari berbagai macam intervensi, pelayanan dan asistensi yang disediakan untuk recovery, yang merupakan kelanjutan dari program primer atau primary treatment, yaitu Primary Stage, re-entry program.

 

1.    Primary Stage

Periode tahap ini berlangsung selama kurang lebih 6 hingga 9 bulan. Para residen akan menjalani tahapan sebagai berikut;

a.    Younger Member

Pada tahap ini, residen mengikuti program dengan proaktif. Residen wajib mengikuti aturan-aturan yang ada, dan jika melanggar maka akan mendapatkan sangsi. Pada tahapan ini, residen boleh dikunjungi oleh orang tua atau keluarga selama satu kali dalam 2 minggu. Pertemuan residen dan keluarga ini juga didampingi oleh relawan sosial, dan senior di program TC. Selain itu, residen boleh menerima telepon namun didampingi oleh residen senior atau relawan.

 

b.    Middle Peer

Pada tahap ini, residen sudah harus bertanggung jawab pada sebagian pelaksanaan operasional panti atau lembaga, membimbing younger member,dan residen yang masih dalam proses orientasi, menerima telepon tanpa pendamping, meninggalkan panti didampingi orang tua dan senior, secara bertahap dari mulai 4 jam hingga 12 jam.

Pada tahap ini, residen bisa berperan sebagai buddy (pendamping ) bagi residen yang baru masuk.

 

c.    Older Member

Pada tahap ini, tanggung jawab residen semakin besar, karena ia harus memikirkan staf dan memikirkan seluruh operasional panti, dan memiliki tanggung jawab pada residen yunior. Jika residen ini melakukan kesalahan, maka sanksi yang dikenakan padanya tanpa toleransi. Namun di sisi lainnya, residen pada tahap ini boleh meninggalkan panti selama 24 jam, dengan pendampingan keluarga dan senior.

Setelah melewati tahapan awal dan evaluasi, maka jika dinyatakan lulus residen berhak masuk ke tahap lanjutan.

 

Lalu, seperti apa ya Kegiatan yang dilakukan dalam tahap Primary Stage ini

 

·         Morning Meeting

Kegiatan ini dilakukan setiap pagi oleh para residen. Bentuk kegiatan ini adalah forum untuk membangun nilai dan sistem kehidupan yang baru berdasarkan filosofi TC. Dalam kegiatan ini, residen membacakan filisofi yang tertulis, memberikan pernyataan pribadi, mengemumakan konsep hari ini, mendapatkan nasehat atau peringatan, mendapatkan pengumuman yang berkaitan dengan kepentingan bersama, dan juga menjalani permainan. Tujuan dari kegiatan ini semua antara lain untuk mengawali agar hari tersebut jauh lebih baik, meningkatkan kepercayaan diri, melatih kejujuran, mengindentifikasi perasaan, dan menanggapi isu dalam rumah residen yang harus diselesaikan.

 

·         Encounter Group

Dalam sesi ini, residen diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan marah, sedih, kecewa, dan lain-lain. Setiap residen berhak menuliskan di atas secarik kertas, yang berisi ungkapan kekesalan, kekecewaan, atau kemarahan yang ditujukan pada orang tertentu.  Kegiatan ini biasanya dilaksanakan 1 kali dalam seminggu, dengan durasi 2 jam. Acara ini biasanya ditutup dengan hal-hal yang sifatnya rileks. Tujuan kegiatan ini untuk membangun komunitas yang sehat, menjadikan komunitas personal yang bertanggung jawab, berani mengungkapkan perasaan, membangun kedisiplinan, dan meningkatkan tanggung jawab.

 

·         Static Group

Ini adalah bentuk kelompok yang bertujuan untuk mengubah perilaku dalam TC. Kelompok ini membicarakan tentang berbagai isu dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan yang sudah lalu, yang tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan antar sesama residen, membangkirkan percaya diri, dan mencari solusi dari permasalahan yang ada.

 

·         PAGE (Peer Accountabillity Group Evaluation)

Dalam segmen ini, residen mendapatkan kesempatan untuk dapat  memberikan satu penilaian positif dan negatif dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama residen. Dalam kelompok ini tiap residen dilatih meningkatkan kepekaan terhadap perilaku komunitas. Residen dikelompokan sesuai statusnya, yang mana setiap anggotanya terdiri dari 10 hingga 15 orang. Dalam sesi ini, setiap anggota akan membahas  baik buruk perilaku seorang residen dalam kelompok.

 

·         Haircut

Residen yang melakukan kesalahan secara berulang-ulang dan telah diberikan sanksi akan diberikan sanksi. Para petugas akan menunjukkan rasa kecewa akan kesalahan yang diperbuat oleh residen. Petugas mengekspresikan kekesalan ini dengan menaikkan volume suara, dan menatap dengan tajam.

 

 

·         Weekend Wrap Up

Para residen diberikan kesempatan untuk membahas apa saja yang dialami selama satu minggu. Kelompok ini terfokus pada residen yang mendapatkan kelonggaran untuk keluar bersama keluarga ataupun teman angkatannya.

 

 

 

·         Learning Experiences

Ini adalah bentuk sanksi yang diberikan setelah menjalani haircut, family haircut, dan general meeting. Tujuan dari fase ini adalah agar residen bisa belajar dari pengalaman sehingga mereka bisa mengubah perilaku.

 

2.    Re-Entry Stage

Tahap ini merupakan lanjutan dari tahap primer, yang tujuannya untuk mengembalikan residen ke dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Tahap ini dilaksanakan selama 3 hingga 6 bulan. Tahapan ini mencakup ;

·         Orientasi

Ini adalah tahap penyesuaian residen dengan lingkungan re-entry. Pada masa orientasi ini, residen didampingin oleh buddy (pendamping) yang ditunjuk oleh staf. Selama masa ini, residen tidak boleh meninggalkanpanti, dan tidak berhak mendapatkan uang jajan, bertemu orang tua, dan bisa mendapatkan sanksi berupa tugas-tugas pekerjaan rumah.

·         Fase A

Dalam fase ini, residen sudah mendapatkan hak-haknya seperti uang jajan setiap minggu, kunjungan orang tua setiap waktu, ijin pulang satu kali dalam dua minggu selama satu malam, dan boleh beraktivitas di luar panti bersama residen lainnya. Tahap ini dijalani selama kurang lebih 1,5 hingga 2 bulan. Tujuannya agar si residen terlatih untuk menghadapi masalah dalam keluarga dan memecahkannya, dan melatih kemampuan residen dalam memenej waktu dan uang.

·         Fase B

Pada fase ini, residen boleh melakukan aktivitas di luar seperti les, kuliah atau bekerja. Selain itu, residen juga berhak mendapatkan tambahan uang saku yang sesuai dengan kebutuhannya, dan memperoleh ijin untuk menginap 2 malam, dalam dua minggu, yaitu pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tujuan fase ini adalah agar residen bisa mengimplementasikan rencana yang dibuat pada fase A, sehingga bisa mencapai karir dan tujuan kehidupan.

·         Fase C

Pada fase ini, residen boleh pulang, dengan lebih leluasa artinya ia bisa memilih hari, bukan hanya di akhir pekan seperti pada fase sebelumnya. Selain itu residen bahkan diperbolehkan pulang hingga satu pekan (tergantung dari penilaian staf).  Jika residen sudah melewati fase A hingga C, maka yang bersangkutan akan mendapatkan konseling perorangan untuk menentukan apakah residen bisa resosialisasi ke masyarakat atau tidak.

Kegiatan dalam tahap Re- Entry ;

a.    Group Re-Entry, adalah wadah untuk menempa residen menjadi pribadi yang memiliki sikap dan perilaku yang lebih baik.

b.    Treatment, terdiri dari tiga unsur antara lain;

Ø  Allowances/uang saku

Residen akan mendapatkan kepercayaan untuk memegang uang dalam jumlah tertentu untuk kepentingan sehari-hari. Di luar kepentingan, residen bisa meminta uang tambahan pada konselor.

Ø  Task

Dalam re-entry, residen yang melakukan kesalahan bisa mendapatkan sanksi, namun tidak seperti sanksi yang dikenakan pada tahap awal. Sanksi yang diterima tidak terlalu berat.

Ø  Home Leave/Business Pass

Residen bisa meninggalkan TC, dengan tujuan agar bisa lebih dekat dengan keluarga.

Ø  Spiritual

Dalam re-entry, ada kelas keagamaan setiap harinya. Bagi yang beragama islam juga ditekankan untuk selalu menjalani sholat lima waktu.

Ø  Counseling

Pada tahap ini, residen akan menemukan banyak konseling, karena para residen akan menghadapi banyak masalah baru. Karena itulah peran konselor cukup vital, karena konselor akan memberikan sudut pandangnya pada residen mengenai masalah yang dihadapi oleh si residen.

Ø  Les, Kuliah atau Bekerja

Para residen boleh melakukan tiga hal di atas, sehingga mereka bisa kembali ke dunia nyata dan bisa bersosialiasasi dengan lingkungan. Dengan kegiatan di atas, residen bisa meningkatkan kompetensi dirinya di luar sehingga bisa menjadi bekal dalam kehidupan di masa yang akan datang.

Ø  Time Management

Di dalam re-entry waktu senggang banyak sekali ditemukan. Karena itulah, residen harus bisa mengelola waktu yang ada dengan maksimal setiap harinya. Residen harus bisa menunjukan inisiatifnya diri sendiri untuk memanfaatkan waktu luang yang ada.

Ø  Request

Residen berhak meminta barang-barang yang mereka inginkan atau perlukan. Namun staf tidak bisa begitu saja mengabulkan permintaan mereka, karena tetap harus disaring.

Ø  Night entertainment

Untuk menguatkan mental residen, staf memperbolehkan residen untuk ke luar ke tempat hiburan namun dalam pengawasan staf atau keluarga.

Ø  Home Leave

Residen boleh meninggalkan tempat TC, dan pergi bersama teman, namun tetap sebelumnya ada kesepakatan dari pihak kelompok. Yang kedua, residen boleh request menelpon teman, dengan persetujuan dari staf dan orang tua.

Ø  Business Pass

Residen boleh keluar selama 1 hari tanpa menginap untuk memenuhi keperluannya, seperti mengurusi masalah les, kuliah, pesta pernikahan, atau keperluan lainnya.

Ø  Leisure Time

Waktu luang yang ada di tempat rehab, bisa dimanfaatkan untuk aktivitas positif seperti membaca koran, olahraga, menulis dan lain-lainnya.

Ø  Outdoor Sport

Kegiatan olahraga bersama-sama yang dilakukan di luar panti dan didampingi oleh staf atau residen yang senior.

Ø  Static Outing

Bersama dengan para konselor, Kelompok kecil dalam tahap re-entry (2-5 residen)  melakukan kegiatan di luar panti yang tujuannya untuk mempererat hubungan antara satu sama lain.

 

Sobat, setelah para residen ini lulus dari tahap di atas, maka mereka bisa melanjutkan dalam program Aftercare atau bimbingan lanjutan. Program yang ditujukan bagi para eks residen  atau alumni program ini dilaksanakan di panti dan diikuti oleh semua angkatan di bawah pengawasan dari staf re-entry. Tujuan program ini adalah agar para alumnus TC memiliki tempat atau kelompok yang sehat agar mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan yang positif. (bk)

Dampak Buruk Narkoba

Ketahuilah dampak buruk narkoba bagi kesehatan anda!! jangan lewatkan informasi berikut ini, anda perlu mengetahuinya.
Detail Klik Detail untuk melanjutkan
Dampak Buruk Narkoba

Dampak Fisik

Adaptasi biologis tubuh kita terhadap penggunaan narkoba untuk jangka waktu yang lama bisa dibilang cukup ekstensif, terutama dengan obat-obatan yang tergolong dalam kelompok downers. Tubuh kita bahkan dapat berubah begitu banyak hingga sel-sel dan organ-organ tubuh kita menjadi tergantung pada obat itu hanya untuk bisa berfungsi normal.

Salah satu contoh adaptasi biologis dapat dilihat dengan alkohol. Alkohol mengganggu pelepasan dari beberapa transmisi syaraf di otak. Alkohol juga meningkatkan cytocell dan mitokondria yang ada di dalam liver untuk menetralisir zat-zat yang masuk. Sel-sel tubuh ini menjadi tergantung pada alcohol untuk menjaga keseimbangan baru ini.

Tetapi, bila penggunaan narkoba dihentikan, ini akan mengubah semua susunan dan keseimbangan kimia tubuh. Mungkin akan ada kelebihan suatu jenis enzym dan kurangnya transmisi syaraf tertentu. Tiba-tiba saja, tubuh men untuk mengembalikan keseimbangan didalamnya. Biasanya, hal-hal yang ditekan/tidak dapat dilakukan tubuh saat menggunakan narkoba, akan dilakukan secara berlebihan pada masa Gejala Putus Obat (GPO) ini.

Misalnya, bayangkan efek-efek yang menyenangkan dari suatu narkoba dengan cepat berubah menjadi GPO yang sangat tidak mengenakkan saat seorang pengguna berhenti menggunakan narkoba seperti heroin/putaw. Contoh: Saat menggunakan seseorang akan mengalami konstipasi, tetapi GPO yang dialaminya adalah diare, dll.

GPO ini juga merupakan ‘momok’ tersendiri bagi para pengguna narkoba. Bagi para pecandu, terutama, ketakutan terhadap sakit yang akan dirasakan saat mengalami GPO merupakan salah satu alasan mengapa mereka sulit untuk berhenti menggunakan narkoba, terutama jenis putaw/heroin. Mereka tidak mau meraskan pegal, linu, sakit-sakit pada sekujur tubuh dan persendian, kram otot, insomnia, mual, muntah, dll yang merupakan selalu muncul bila pasokan narkoba kedalam tubuh dihentikan.

Selain ketergantungan sel-sel tubuh, organ-organ vital dalam tubuh seperti liver, jantung, paru-paru, ginjal,dan otak juga mengalami kerusakan akibat penggunaan jangka panjang narkoba. Banyak sekali pecandu narkoba yang berakhiran dengan katup jantung yang bocor, paru-paru yang bolong, gagal ginjal, serta liver yang rusak. Belum lagi kerusakan fisik yang muncul akibat infeksi virus {Hepatitis C dan HIV/AIDS} yang sangat umum terjadi di kalangan pengguna jarum suntik.

Dampak Mental

Selain ketergantungan fisik, terjadi juga ketergantungan mental. Ketergantungan mental ini lebih susah untuk dipulihkan daripada ketergantungan fisik. Ketergantungan yang dialami secara fisik akan lewat setelah GPO diatasi, tetapi setelah itu akan muncul ketergantungan mental, dalam bentuk yang dikenal dengan istilah ‘sugesti’. Orang seringkali menganggap bahwa sakaw dan sugesti adalah hal yang sama, ini adalah anggapan yang salah. Sakaw bersifat fisik, dan merupakan istilah lain untuk Gejala Putus Obat, sedangkan sugesti adalah ketergantungan mental, berupa munculnya keinginan untuk kembali menggunakan narkoba. Sugesti ini tidak akan hilang saat tubuh sudah kembali berfungsi secara normal.

Sugesti ini bisa digambarkan sebagai suara-suara yang menggema di dalam kepala seorang pecandu yang menyuruhnya untuk menggunakan narkoba. Sugesti seringkali menyebabkan terjadinya 'perang' dalam diri seorang pecandu, karena di satu sisi ada bagian dirinya yang sangat ingin menggunakan narkoba, sementara ada bagian lain dalam dirinya yang mencegahnya. Peperangan ini sangat melelahkan... Bayangkan saja bila Anda harus berperang melawan diri Anda sendiri, dan Anda sama sekali tidak bisa sembunyi dari suara-suara itu karena tidak ada tempat dimana Anda bisa sembunyi dari diri Anda sendiri... dan tak jarang bagian dirinya yang ingin menggunakan narkoba-lah yang menang dalam peperangan ini. Suara-suara ini seringkali begitu kencang sehingga ia tidak lagi menggunakan akal sehat karena pikirannya sudah terobsesi dengan narkoba dan nikmatnya efek dari menggunakan narkoba. Sugesti inilah yang seringkali menyebabkan pecandu relapse. Sugesti ini tidak bisa hilang dan tidak bisa disembuhkan, karena inilah yang membedakan seorang pecandu dengan orang-orang yang bukan pecandu. Orang-orang yang bukan pecandu dapat menghentikan penggunaannya kapan saja, tanpa ada sugesti, tetapi para pecandu akan tetap memiliki sugesti bahkan saat hidupnya sudah bisa dibilang normal kembali. Sugesti memang tidak bisa disembuhkan, tetapi kita dapat merubah cara kita bereaksi atau merespon terhadap sugesti itu.

Dampak mental yang lain adalah pikiran dan perilaku obsesif kompulsif, serta tindakan impulsive. Pikiran seorang pecandu menjadi terobsesi pada narkoba dan penggunaan narkoba. Narkoba adalah satu-satunya hal yang ada didalam pikirannya. Ia akan menggunakan semua daya pikirannya untuk memikirkan cara yang tercepat untuk mendapatkan uang untuk membeli narkoba. Tetapi ia tidak pernah memikirkan dampak dari tindakan yang dilakukannya, seperti mencuri, berbohong, atau sharing needle karena perilakunya selalu impulsive, tanpa pernah dipikirkan terlebih dahulu.

Ia juga selalu berpikir dan berperilaku kompulsif, dalam artian ia selalu mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Misalnya, seorang pecandu yang sudah keluar dari sebuah tempat pemulihan sudah mengetahui bahwa ia tidak bisa mengendalikan penggunaan narkobanya, tetapi saat sugestinya muncul, ia akan berpikir bahwa mungkin sekarang ia sudah bisa mengendalikan penggunaannya, dan akhirnya kembali menggunakan narkoba hanya untuk menemukan bahwa ia memang tidak bisa mengendalikan penggunaannya! Bisa dikatakan bahwa dampak mental dari narkoba adalah mematikan akal sehat para penggunanya, terutama yang sudah dalam tahap kecanduan. Ini semua membuktikan bahwa penyakit adiksi adalah penyakit yang licik, dan sangat berbahaya.

Dampak Emosional

Narkoba adalah zat-zat yang mengubah mood seseorang (mood altering substance). Saat menggunakan narkoba, mood, perasaan, serta emosi seseorang ikut terpengaruh. Salah satu efek yang diciptakan oleh narkoba adalah perubahan mood. Narkoba dapat mengakibatkan ekstrimnya perasaan, mood atau emosi penggunanya. Jenis-jenis narkoba tertentu, terutama alkohol dan jenis-jenis narkoba yang termasuk dalam kelompok uppers seperti Shabu-shabu, dapat memunculkan perilaku agresif yang berlebihan dari si pengguna, dan seringkali mengakibatkannya melakukan perilaku atau tindakan kekerasan. Terutama bila orang tersebut pada dasarnya memang orang yang emosional dan bertemperamen panas.

Ini mengakibatkan tingginya domestic violence dan perilaku abusive dalam keluarga seorang alkoholik atau pengguna Shabu-shabu. Karena pikiran yang terobsesi oleh narkoba dan penggunaan narkoba, maka ia tidak akan takut untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang men menghalaginya untuk menggunakan narkoba. Emosi seorang pecandu narkoba sangat labil dan bisa berubah kapan saja. Satu saat tampaknya ia baik-baik saja, tetapi di bawah pengaruh narkoba semenit kemudian ia bisa berubah menjadi orang yang seperti kesetanan, mengamuk, melempar barang-barang, dan bahkan memukuli siapapun yang ada di dekatnya. Hal ini sangat umum terjadi di keluarga seorang alkoholik atau pengguna Shabu-shabu. Mereka tidak segan-segan memukul istri atau anak-anak bahkan orangtua mereka sendiri. Karena melakukan semua tindakan kekerasan itu di bawah pengaruh narkoba, maka terkadang ia tidak ingat apa yang telah dilakukannya.

Saat seseorang menjadi pecandu, ada suatu kepribadian baru yang muncul dalam dirinya, yaitu kepribadian pecandu atau kepribadian si junkie. Kepribadian yang baru ini tidak peduli terhadap orang lain, satu-satunya hal yang penting baginya adalah bagaimana cara agar ia tetap bisa terus menggunakan narkoba. Ini sebabnya mengapa ada perubahan emosional yang tampak jelas dalam diri seorang pecandu. Seorang anak yang tadinya selalu bersikap manis, sopan, riang, dan jujur berubah total mejadi seorang pecandu yang brengsek, pemurung, penyendiri, dan jago berbohong dan mencuri.

Adiksi terhadap narkoba membuat seseorang kehilangan kendali terhadap emosinya. Seorang pecandu acapkali bertindak secara impuls, mengikuti dorongan emosi apapun yang muncul dalam dirinya. Dan perubahan yang muncul ini bukan perubahan ringan, karena pecandu adalah orang-orang yang memiliki perasaan dan emosi yang sangat mendalam. Para pecandu seringkali diselimuti oleh perasaan bersalah, perasaan tidak berguna, dan depresi mendalam yang seringkali membuatnya berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Perasaan-perasaan ini pulalah yang membuatnya ingin terus menggunakan, karena salah satu efek narkoba adalah mematikan perasaan dan emosi kita. Di bawah pengaruh narkoba, ia dapat merasa senang dan nyaman, tanpa harus merasakan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan. Tetapi… perasaan-perasaan ini tidak hilang begitu saja, melainkan ‘terkubur hidup-hidup’ di dalam diri kita. Dan saat si pecandu berhenti menggunakan narkoba, perasaan-perasaan yang selama ini ‘mati’ atau ‘terkubur’ dalam dirinya kembali bangkit, dan di saat-saat seperti inilah pecandu membutuhkan suatu program pemulihan, untuk membantunya menghadapi dan mengatasi perasaan-perasaan sulit itu.

Satu hal juga yang perlu diketahui adalah bahwa salah satu dampak buruk narkoba adalah mengakibatkan pecandu memiliki suatu retardasi mental dan emosional. Contoh seorang pecandu berusia 16 tahun saat ia pertama kali menggunakan narkoba, dan saat ia berusia 26 tahun ia berhenti menggunakan narkoba. Memang secara fisik ia berusia 26 tahun, tetapi sebenarnya usia mental dan emosionalnya adalah 16 tahun. Ada 10 tahun yang ‘hilang’ saat ia menggunakan narkoba. Ini juga sebabnya mengapa ia tidak memiliki pola pikir dan kestabilan emosi seperti layaknya orang-orang lain seusianya.

Dampak Spiritual

Adiksi terhadap narkoba membuat seorang pecandu menjadikan narkoba sebagai prioritas utama didalam kehidupannya. Narkoba adalah pusat kehidupannya, dan semua hal/aspek lain dalam hidupnya berputar di sekitarnya. Tidak ada hal lain yang lebih penting daripada narkoba, dan ia menaruh kepentingannya untuk menggunakan narkoba di atas segala-galanya. Narkoba menjadi jauh lebih penting daripada istri, suami, pacar, anak, orangtua, sekolah, pekerjaan, dll.

Ia berhenti melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa ia lakukan sebelum ia tenggelam dalam penggunaan narkobanya. Ia tidak lagi melakukan hobi-hobinya, menjalani aktivitas normal seperti sekolah, kuliah, atau bekerja seperti biasa, bila sebelumnya ia termasuk rajin beribadah bisa dipastikan ia akan menjauhi kegiatan yang satu ini, apalagi dengan khotbah agama yang selalu didengar bahwa orang-orang yang menggunakan narkoba adalah orang-orang yang berdosa.

Ini menyebabkan pecandu seringkali hidup tersolir, ia hidup dalam dunianya sendiri dan mengisolasi dirinya dari dunia luar, yaitu dunia yang tidak ada hubungannya dengan narkoba. Ia menjauhi keluarga dan teman-teman lamanya, dan mencari teman-teman baru yang dianggap sama dengannya, yang dianggap dapat memahaminya dan tidak akan mengkuliahinya tentang penggunaan narkobanya.

Narkoba dianggap sebagai sahabat yang selalu setia menemaninya. Orangtua bisa memarahinya, teman-teman mungkin menjauhinya, pacar mungkin memutuskannya, bahkan Tuhan mungkin dianggap tidak ada, tetapi narkoba selalu setia dan selalu dapat memberikan efek yang diinginkannya…

Secara spiritual, Narkoba adalah pusat hidupnya, dan bisa dikatakan menggantikan posisi Tuhan. Adiksi terhadap narkoba membuat penggunaan narkoba menjadi jauh lebih penting daripada keselamatan dirinya sendiri. Ia tidak lagi memikirkan soal makan, tertular penyakit bila sharing needle, tertangkap polisi, dll.

Adiksi adalah penyakit yang mempengaruhi semua aspek hidup seorang manusia, dan karenanya harus disadari bahwa pemulihan bagi seorang pecandu tidak hanya bersifat fisik saja, tetapi juga harus mencakup ketiga aspek lainnya sebelum pemulihan itu dapat dianggap sebagai suatu pemulihan yang sebenarnya.

Retardasi

Retardasi sering dikaitkan dengan keterbelakangan mental. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dalam dunia adiksi, penyakit mempengaruhi fisik, mental, emosional, dan spiritual seseorang. Memang secara fisik mungkin tidak terlalu kelihatan, tetapi ketiga aspek lainnya sudah sangat terpengaruh. Bahkan seringkali dikatakan bahwa seorang pecandu usia mentalnya akan berhenti pada usia saat dia mulai memakai drugs.

Katakanlah seorang pecandu mulai memakai drugs saat ia berusia 16 tahun. Maka usia mentalnya adalah 16 tahun, meskipun saat ia masuk kedalam pemulihan ia telah berusia 26 tahun. Bisa dikatakan ia mengalami retardasi mental, emosional, dan spiritual. Memang keadaannya ini tidak seperti keadaan para pasien down syndrome, yang retardasi mentalnya lebih jelas terlihat, bahkan secara fisik, karena memiliki karakteristik fisik yaitu Mongolian face. Tetapi tetap saja ini membuatnya tidak dapat berfungsi sebagai manusia yang seutuhnya.

Retardasi yang dialami pecandu adalah ketidakmampuannya berpikir dan membuat keputusan seperti layaknya orang-orang normal seusianya. Kedewasaan emosionalnya juga mengalami retardasi, ia tidak sedewasa orang-orang sekitarnya (yang bukan pecandu) dalam mengendalikan emosinya. Keadaan spiritualnya apalagi. Dan kita sama sekali tidak membicarakan soal agama. Spiritual disini lebih berarti hubungannya dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang disekitarnya, dan dengan apapun yang diyakininya.

Retardasi mental. Pola pikir pecandu seringkali tidak mencerminkan usianya yang sebenarnya. Ini dikarenakan pemikiran pecandu seringkali berpusat pada prinsip kesenangan. Ia luar biasa takut dengan tanggung jawab. Ia juga tidak mampu untuk membuat suatu komitmen. Ia tidak dapat membuat suatu komitmen yang bertanggung jawab.

Retardasi emosional. Pecandu tidak mampu mengendalikan emosinya. Ia akan cenderung ekstrim dalam merasa dan mengungkapkan perasaan dan emosinya, belum lagi ada mood swing yang bagaikan roller coaster yang dialami oleh pecandu. Ia tidak memiliki kestabilan emosi yang dimiliki oleh orang-orang seusianya.

Retardasi spiritual. Hubungan antara pecandu dengan dirinya sendiri, atau dengan orang lain, apalagi dengan Kekuatan Lebih Tinggi (apapun bentuknya) bisa dikatakan hampir tidak ada, atau kalaupun ada sama sekali tidak sehat.

Retardasi pada bayi-bayi junkie juga seringkali ditemukan. Hal ini disebabkan ia juga terkena pengaruh dari narkoba yang dikonsumsi oleh ibunya.

TOP
error: Content is protected !!